Tinggalkan komentar

DARI ERA MONOLOG MENUJU ERA DIALOG

Dialog: Cara Ke Depan

Dahulu manusia tentu bisa tinggal sendirian dengan kelompoknya dan mengisolasi dari kelompok lain tanpa menyadari keberadaan satu sama lainnya. Kadang-kadang terjadi banyak cerita yang keliru tentang kelompok lain. Setiap orang bercerita tentang budayanya “sendiri”. Bahkan jarang gambaran tentang “kelompok lain” itu berasal langsung dari pengakuan kelompok lain tersebut, tetapi kebanyakan dari ceritanya sendiri yang mendengar tentang gambaran kelompok lain. Singkatnya, sampai era tersebut manusia hidup dalam Era Monolog. Era tersebut sekarang telah kita lewati.

Sekarang kita sedang memasuki Era Dialog. Kita akan mengelilingi dunia, dan beragam elemen global akan sampai kepada kita. Hampir kota-kota besar di dunia tidak berbicara dengan aksen dan bahasa yang asing. Jalan-jalan, bisnis, dan rumah kita dipenuhi dengan produk-produk asing. Melalui televisi, kita mengundang banyak penduduk, budaya, dan agama asing memasuki ruang kehidupan kita.

Kita tidak bisa lagi mengabaikan Orang lain, kita tidak bisa menutup pikiran dan spirit kita terhadap mereka, memandang mereka dengan ketakutan dan keliru, merasa tersinggung dan bahkan membencinya. Cara pertemun ini mudah menimbulkan permusuhan yang mengarah pada peperangan dan pertumpahan darah.

Isu nuklir sekarang, kerusakan lingkungan hidup dan bencana lainnya merupakan akibat dari cara monolog. Untuk mencegah bencana tersebut adalah dengan berusaha keluar dari cara pandang monolog menuju usaha dialog dengan kelompok Lain seperti apa adanya dan bukan seperti gambaran yang kita buat tentang mereka. Singkatnya: kita harus cepat beralih dari Era Monolog menuju ke Era Dialog.

Apa yang kita anggap sebagai “penjelasan tentang makna mutlak” adalah apa yang kita sebut sebagai agama kita, atau jika keterangan tersebut tidak berdasarkan pad ide transenden, kita dapat menyebutnya sebagai ideologi atau kepercayaan. Karena agama atau ideologi kita itu komprehensif dan terbuka maka kelompok Lain yang berbeda dengan kita mungkin nampak sebagai ancaman. Hal ini tidak mengherankan. Rentetan konflik baru-baru ini yang berbau agama atau ideologi telah mengguncang sebagai titik api perpecahan seperti di Irlandia Utara, Libanon, Israel, Sri Lanka, Pakistan-India, Tibet, Afganistan, Sudan, dan Armenia-Azrbaijan.

Oleh karena itu, jika manusia beralih dari Era Monolog menuju Era Dialog, agama-agama dan idelogi harus memasuki transisi tersebut sepenuhnya. Pada kenyataannya mereka telah mulai serius bergerak, meski perjalanannya masih panjang.

Dialog: Cara Berfikir

Dialog, terutama dalam area keagamaan dan idelogi, bukan hanya serangkaian pertemuan. Dialog merupakan cara berfikir yang baru, cara memandang dan merefleksikan dan memaknai dunia.

Jika kita hanya menulis untuk orang Kristen, kita akan menggunakan istilah teologi untuk menamai apa yang kita bicarakan di sini. Tetapi cara berfikir dialogis bukan khusus untuk Kristen, tetapi lebih merupakan cara bagi seluruh manusia untuk merefleksikan makna hidupnya yang mutlak. Tanpa memandang apakah orang tersebut bertuhan atau apakah orang tersebut menggunakan pemikiran Yunani, seperti orang Kristen ingin melakukannya dengan “berteologi”-nya, jelasnya dialog adalah cara ke depan untuk refleksi agama dan ideologi tentang makna hidupnya yang mutlak dan bagaimana hidup agar bermakna.

Kita yakin bahwa dengan usaha meninggalkan keabsolutan pandangan yang kita punyai sebagai seorang Kristen, Muslim, Buddhis, dan lainnya akan semakin “mengurangi keabsolutan” dalam dunia pemikiran kita. Oleh karena itu, kita akan merefleksikan di sini tentang cara yang dibutuhkan oleh semua manusia untuk memikirkan dan memaknai dunia yang sekarang semakin banyak orang dan bahkan institusi memperoleh cukup materi untuk memperhatikan adanya cara menyatukan suatu pemahaman dunia yang lain dari pemahaman mereka dan nenek moyangnya.

Meninggalkan cara absolut memahami dan memaknai dunia, meninggalkan cara berfikir absolut, dengan cara yang lebih kaya dan “sejati” dalam memahami dunia adalah permulaan lahirnya cara berfikir yang dialogis.

Setiap partner dialog dengan paradigma atau dengan model pemahaman dunia baru ini, pada kenyataannya merupakan semua cara memahami dan memaknai dunia bagi semua agama-agama dan idelogi dunia. Oleh karena itu pada akhirnya masing-masing akan berusaha keras terlibat dalam dialog setidaknya dengan agama-agama dan idelogi besar dunia, merefleksikan tentang apa yang dapat dipelajari satu sama lainnya. Tetapi di luar semua ini partner dialog sering tidak sadar kecuali selalu menjadi partner dialog yang meresapi semua pembaca buku ini dan menimbulkan sejumlah pemikiran kritis modern kontemporer.

Orang yang terbuka untuk berdialog, yakni yang terbuka untuk melampaui keabsolutan untuk belajar dari orang lain, akan hidup dengan tidak adanya kebsolutan, hidup “berhubungan”, modern, pemikiran tentang dunia yang kritis, suatu pemikira dunia dimana mereka tidak lagi dapat hidup pada level pertama kenaifan, tetapi setidaknya berusaha keras hidup pada level kenaifan kedua. pada level ini, mereka melihat asal-usul simbol dan metaforanya sebagai simbol-simbol dan metafora; dan oleh karena itu, mereka tidak keliru dalam realitas ontologisnya, tetapi mereka juga tidak hanya menolaknya sebagai fantasi dan cerita-cerita bohong. Justru karena mereka menganggapnya sebagai akar simbol dan metafora, mereka mengapresiasikannya dengan benar sebagai kendaraan yang sangat diperlukan untuk menyampaikan realita-realita mendalam yang di luar kemampuan penyampaian bahasa sehari-hari.

Dialog: Maknanya

Dialog adalah pertemuan antara dua orang atau lebih dengan pandangan yang berbeda-beda dan tujuan utama ­nya utamanya adalah untuk saling belajar agar mereka dapat berubah dan berkembang. Tentu kedua partner dialog juga ingin memberikan pengetahuannya kepada partner lainnya. Namun, yang terpenting dalam dialog adalah kita dapat belajar, berubah dan berkembang dan tidak berarti kita bisa memaksa perubahan pada orang lain.

Dahulu ketika kita bertemu dengan orang yang agama dan ideloginya berbeda dengan kita, kita biasanya mengalahkan mereka sebagai lawan atau belajar tentang mereka untuk menghadapi mereka secara efektif. Dengan kata lain, kita biasanya menghadapi orang yang berbeda dengan kita dengan cara konfrontasi, kadang-kadang dengan polemik terbuka yang rumit dan tujuan akhir biasanya untuk menguasai orang lain karena kita merasa yakin bahwa hanya kitalah yang benar.

Tetapi bukan hal ini yang dimaksud dengan dialog. Dialog bukanlah perdebatan. Dalam dialog masing-masing partner mendengarkan orang lain secara terbuka dan simpatik untuk memahami posisi orang lain sebenarnya. Sikap tersebut otomatis mengasumsikan bahwa dalam suatu hal dalam dialog kita mungkin menemukan posisi partner dialog yang sangat meyakinkan, dan jika kita berlaku dengan integritas, kita akan berubah.

Hingga dewasa ini, dalam semua tradisi agama, ide mencari kebijaksanaan keagamaan atau ideologi, pengetahuan, atau kebenaran melalui dialog, masih sedikit dilakukan, kecuali dalam bentuk yang sudah ketinggalam zaman. Ide tersebut tentu tidak berpengaruh dalam komunitas keagamaan atau ideologi. Kemudian ide mencari kebenaran agama atau ideologi melalui dialog dengan agama-agama dan idelogi lain masih kurang dipikirkan.

Sekarang situasinya berubah drastis. Satu contoh dari revolusi literal ini berasal dari sumber yang tidak bisa diperkirakan: Katolikisme. Pada tahun 1964, surat pertama Paus Paul VI tentang dialog:

Dialog sekarang menjadi tuntutan…. [dialog] dituntut oleh tindakan dinamis yang mengubah wajah masyarakat modern. Dialog dituntut oleh pluralisme masyarakat dan oleh kedewasaan manusia yang telah dicapai dalam era ini. Baik dia beragama atau tidak, karena pendidikan sekularnya menjadikan dia mampu berfikir dan bericara, dan melakukan dialog dengan luhur.[1]

Pernyataan selanjutnya datang dari Sekretariat Vatican untuk dialog dengan kepercayaan lain: “Semua umat Kristen harus melakukan yang terbaik untuk mempromosikan dialog….Sebagai kewajiban amal persaudaraan untuk era kemajuan dan kedewasaan kita”.[2]

Ketika kita membicarakan “dialog” di sini, dialog yang dimaksud di sini bukan sekedar diskusi yang bermanfaat. Dialog yang kita maksud adalah suatu pengalaman pertemuan dengan orang yang mempunyai kepercayaan dasar yang berbeda dengan suatu cara untuk mencari kejelasan asumsi seseorang yang akan menghasilkan saling pemahaman. Yang kita maksud dengan dialog adalah memperkuat dan menegaskan kepercayaan dan praktik dasar serta mentransformasikannya.

Evolusi agama dan budaya menunjukkan proses yang penting untuk mengatasi problem mendalam yang ada dalam seluruh aspek kebudayaan manusia kita dan bahkan mengancam keberadaan kita – yakni, bangkitnya manusia menuju kekuatan dialog. Suatu yang luar biasa terjadi ketika kita mengalami kedalaman personal dan kebangkitan dialogis komunal. Terdapat perubahan mendalam dalam bagaimana kita merasakan diri kita, kehidupan kita, prioritas kita, hubungan kita, dan dunia kita. Bangkitnya dialog akan menghilangkan halangan yang cenderung menutupi pandangan global kita untuk melepaskan gairah energi moral, mengintensifkan tanggung jawab sosial, dan memperdalam spiritual. Pertemuan intensif tersebut mendorong partisipan untuk menterjemahkan potensi dan hasrat dialogis ke dalam tindakan sosial yang bertanggung jawab.

Dialog: Alasan Kemunculannya

Mengapa perubahan dramatis ini terjadi? Mengapa kita harus mencari kebenaran dalam area agama dan ideologi dengan cara berdialog?

Terdapat banyak faktor “eksternal” pada abad yang lalu dan separohnya telah menyumbangkan terbentuknya apa yang sekarang kita sebut dengan “perkampungan global”. Dahulu, mayoritas orang lahir, hidup, dan mati di perkampungan atau lembah asal-usulnya. Namun sekarang ratusan juta orang di berbagai negara meninggalkan rumahnya bukan hanya sekali atau beberapa saat, tetapi berulangkali. Oleh karena itu mereka menemukan adat istiadat dan budaya yang lain dari dirinya. Kemudian dunia mendatangi kita melalui media massa. Semua perekonomian kita segera menjadi perekonomian global yang saling ketergantungan.

Seluruh faktor-faktor eksternal ini semakin menjadikan orang Barat dan setiap orang tidak mungkin hidup sendirian. Mau tidak mau kita bertemu dengan orang lain, dan setelah bencana dua perang dunia, depresi dunia, ancaman bahaya nuklir, dan kerusakan lingkungan dewasa ini, kita belajar bahwa pertemuan kita tidak lagi dapat dilakukan dengan pengabaian, karena dapat menimbulkan prasangka yang menjadi sumber permusuhan dan kejahatan. Dan jika permusuhan ini menimbulkan Perang Dunia III atau krisis lingkungan, maka akan berakhir sejarah manusia. Oleh karena itu, demi kelangsungan hidup manusia maka pertemuan dialog merupakan satu-satunya alternatif untuk mengatasi bencana global.

Bencana global abad ke-20 mempunyai pengaruh mendalam pada institusi yang paling bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa ini: dalam modernitas Barat dan institusi agama besar di situ terdapat agama Kristen. Misalnya, Stanley Samartha, direktur utama Konsili Dunia untuk divisi Gereja dalam dialog interrelijius menyatakan bahwa, “Bukan tidak ada artinya bahwa setelah perang dunai dua (1945), ketika, bersamaan dengan berakhirnya kolonialisme, bangsa-bangsa baru muncul dalam tahap sejarah dan menegaskan identitasnya dengan agama dan budayanya, Vatican dan Konsili Gereja Dunia mulai menampakkan sikap yang lebih positif terhadap pemeluk tradisi agama lain”.[3]

Dialog: Perubahan Paradigma dalam Epistemologi

Disamping faktor-faktor “eksternal” yang luar biasa juga terdapat faktor-faktor “internal” yang mungkin digambarkan secara ringkas sebagai perubahan yang lebih dramatis dalam memahami struktur realitas, dan khususnya dalam memahami kebenaran, yang terjadi dalam peradaban Barat dan setelah abad ke-19 dan ke-20. Perubahan ini menjadikan dialog bkan hanya mungkin tetapi harus dilakukan. Istilah-istilah seperti keabadian (immutability), penyederhanaan, dan monolog yang menandai pemahaman Barat tentang realitas selama 150 tahun yang lalu, digantikan dengan istilah kerjasama, hubungan dan dialog yang difahami sebagai elemen pembentuk struktur realitas kemanusiaan kita.

Perubahan substantif ini menyebar luas, memepengaruhi pemahaman kita tentang makna kemanusiaan dan refleksi sistematis kita tentang makna tersebut yang dalam istilah Kristen tradisional disebut dengan “bertheologi“. Oleh karena itu penting untuk menerangkan perubahan luas ini dalam pemahaman kita tentang realitas dan kebenaran – perubahan paradigma dasar ini – dan implikasinya bagi refleksi sistematis kita.

Dari beberapa perspektif, misalnya bagaimana kita memahami struktur mutlak alam semesta – sebagai yang statis atau dinamis – adalah dimensi yang paling mendasar bagi pemikiran kemanusiaan kita. Yang lainnya tersusun dalam dan berasal darinya. Bahkan orang yang mengklaim tidak mempunyai pandangan mutlak tentang alam semesta dan metafisika, pada kenyataannya melakukan bentuk metafisika yang sukar difahami.

Namun dari perspektif lainnya, yaitu perspektif asal-usul dan perkembangan adalah bagaimana kita memahami proses pemahaman kita dan apa makna dan status yang kita berhubungan dengan statemen kita tentang realitas atau dengan kata lain berhubungan dengan epistemologi kita adalah yang utama. Perspektif ini akan sangat menentukan bagaimana kita memahami pandangan kita tentang tentang struktur realitas mutlak, atau realitas metafisika; apa nilai yang dapat kita temukan di dalamnya dan bagaimana kita dapat menggunakannya. Begitu juga dengan kebenaran sesuatu lainnya yang kita rasakan, fahami, dan kita fikirkan dan bagaimana kita kemudian memutuskan tindakannya. Karena alasan ini, perubahan revolusioner dalam pemahaman kita tentang kebenaran – yaitu dalam epistemologi kita – yang terjadi di Barat sejak Era Pencerahan abad ke-18 adalah sangat berpengaruh dan merasuki.

Seperti yang telah disinggung di muka secara mendetail, karena pemikiran Barat kita tentang kebenaran itu sebagian besar absolut, statis, dan monologis sampai abad ke-19, maka sejak hilangnya keabsolutan, kemudian menjadi dinamis dan dialogis atau dengan istilah lainnya menjadi relasional.

Pentingnya ‘Dialog Batin’ dan ‘Pikiran Kritis’

‘Dialog Batin’ (Deep-Dialogue) adalah sesuatu yang bukan sekedar pertemuan antara dua orang atau lebih. Dialog mendalam adalah menempatkan posisi kita, dan pada waktu bersamaan mencari transformasi diri dengan membuka diri kita terhadap pemikiran yang berbeda-beda. Disamping dialog batin adalah ‘Pikiran Kritis’, yaitu keseluruhan cara baru berfikir. Untuk membuka diri kita dalam ‘Dialog Batin’, kita juga harus membangun keahlian berfikir secara mendalam dan jernih, yaitu keahlian ‘berfikir kritis’ (critical berasal dari bahasa Yunani, krinein, yang berarti memilih, memutuskan). Namun karena ‘Dialog Batin’ dan ‘Pikiran Kritis’ itu ternyata merupakan dua sisi dari satu realitas, kapanpun kita berbicara tentang ‘Dialog Batin’, otomatis berarti kita melibatkan ‘Pikiran Kritis’. Hal ini akan muncul dalam pikiran ketika membaca buku ini. Secara singkat, untuk menyederhanakan kita hanya akan menggunakan istilah Dialog Batin dan menyertakan makna ‘Pikiran Kritis’ di dalamnya. Kemudian di luar keseluruhan cara baru berfikir, kita menemukan prinsip dialogis dalam dasar semua realitas.

Pondasi ‘Dialog Batin’

‘Dialog Batin’ adalah berdasarkan pada bidang utama Realitas itu sendiri. Melalui semua masa dan melintasi semua tradisi dan pandangan dunia pemikiran agung tersebut berusaha memahami prinsip utama kehidupan dan eksistensinya. Banyak pilihan, strategi dasar yang terbuka melalui perjalanan waktu, yang masing-masing memahami suatu cara atau cara lain yang dapat menggugah pikiran kita, adalah titik pusat untuk mempertemukan prinsip utama ini secara otentik. Keterangan yang berbeda-beda tentang “apa yang pertama” menjadi benar-benar mustahil bagi pandangan dunia yang berbeda-beda untuk menyatukan penyebutan kebenaran global (truly global name) atau penjelasan universal tentang semua Realitas. Oleh karena itu orang yang telah mempunyai keyakinan selama berabad-abad harus menemukan satu prinsip yang mendasari semua realitas, semua pandangan dunia, termasuk sains, dan harus ada satu prinsip utama sebagai sumber semua kesatuan dan perbedaan, serta harus ada daya pemersatu yang menggerakkan dan mendukung semua realitas.

Namun yang pasti karena beragam varian bahasa pengalaman yang luas, sebutan dan narasi kebenaran global sekarang hanya timbul dari batin manuisa dan evolusi budaya. Sekarang tinggal terdapat bentuk kesadaran dan pola-pola pemikiran awal untuk dimatangkan secara global agar dimungkinkan untuk memahami, mengalami, menyebutkan, dan mengartikulasikan esensi global dari asal-usul yang tidak terbatas ini. Bentuk pemikiran yang baru dan menonjol ini bergerak melampaui kebiasaan pemikiran monosentris lama yang terbatas yang menghalangi dan merusak jalan menuju prinsip utama. Pola-pola pikiran kita, bahasa dan pemeliharaan dunia pertama-tama harus menghilangkan rintangan monosentris dan memberikan ruang yang lebih teruka bagi bahasa, pengalaman, dan pikiran agar menjadi kebenaran global.

Kemajuan mendasar dalam kesadaran manusia yang membuka pemahaman kepada prinsip utama ini adalah hasil dari pengalaman kekuatan ‘Dialog Batin’ dan ‘Pikiran Kritis’ yang menggairahkan. Inilah “perubahan perubahan dialogis/kritis” dalam evolusi manusia. Perubahan ini menimbulkan kesadaran global yang cukup dapat mencapai dasar bersama diantara pandangan dunia dan perspektif. Kebangkitan perspektif dialogis/kritis global di seluruh dunia ini merupakan revolusi mendasar dalam bagaimana kita memandang, mengalami, dan memproses realitas dalam setiap aspek kehidupan budaya kita. Perubahan tersebut memberikan kita kemampuan untuk memelihara beragam pandangan dunia dengan kesatuan yang kreatif. Perubahan pikiran yang dramatis ini menyingkapkan pola-pola realitas global yang lebih mendalam yang tidak dapat dideteksi atau diproses dengan kebiasaan pemikiran monosentris. Sekarang kita mulai melihat narasi yang terbuka dan global yang menempatkan pandangan dunia dan perspektif dalam bidang utama yang tidak terbatas.

Rangsangan mendalam yang diekspresikan pandangan dunia yang berbeda-beda tentang prinsip utama yang abadi muncul dari nama-nama penting yang berulangkali dinyatakan oleh tradisi-tradisi agung – misalnya: di Afrika, dalam Agama Tradisional ada istilah Nomo (Istilah Keabadian); di Cina, Taoisme dan Confusianisme ada pemikiran tentang Tao (Jalan); di India, Hinduisme menyebut Aum (Istilah Keabadian), dan Buddhisme berbicara tentang Sunyata (Kekosongan); di Timur Dekat, Yahudi menyebut Hohmah (Lady Wisdom); di Eropa Yunani menyebut tentang Logos (Perkataan, Pikiran); Kristen juga berbicara tentang Logos (én arch hn ó l ógos, “Pada mulanya adalah Kata”, [John 1:1]); sains kontemporer berbicara tentang Bidang Energi. Semuanya ini dianggap sebagai sumber Prinsip Mutlak (yang secara etimologi berarti “Pertama yang Terakhir” (Final First).

Dalam membangun perspektif global yang lebih penting dibandingkan sejarah sebelumnya adalah mengakui bahwa alternatif istilah utama (primal name) keabadian ini berasal dari sumber keabadian yang sama dan mengekspresikan kesamaan asal-usul universal, dan karena muncul dari beragam perspektif budaya, maka penyebutannya adalah berbeda-beda. Intuisi ini kemudian dilanjutkan dari refleksi mendalam tentang sifat Prinsip Mutlak yang abadi. Prinsip tersebut harus selalu menyatukan dan juga secara bebas mendukung istilah-istilah utama yang tidak terbatas.

Sampai sekarang belum ada istilah global yang dianggap sebagai bakal yang benar-benar dapat membantu spektrum luas pandangan dunia dan tradisi istilah-istilah utama untuk bersama-sama dalam merayakan lahirnya kebersamaan global ini. Sekarang pada permulaan milenium ketiga bersamaan dengan proses globalisasi yang meledak dengan pesat, maka yang lebih penting dari sebelumnya adalah cara untuk mengekspresikan Prinsip Mutlak yang akan mempersatukan seluruh manusia, daripada memecah mereka menurut individualitas budayanya. Kenyataannya, kemajuan cara pemahaman kita dewasa ini telah memberikan suatu cara terhadap pemahamanan global ini dan menyebutkan “Pertama yang Terakhir” yang memelihara sekaligus merayakan beragam nama budaya tertentu, dan pada waktu yang bersamaan merayakan kesatuan yang mendasari mereka semua.

Pada mulanya, khususnya pada permulaan abad ke-19 bersamaan dengan pertumbuhan pemahaman kuat tentang sejarah, diikuti dengan perkembangan serangkaian “hermenetik kecurigaan” (hermeneutics of suspicion), semakin jelas bahwa semua statemen tentang realitas, termasuk Realitas Mutlak, adalah terbatas: pernyataan tersebut selalu dalam konteks tertentu, mengajukan pertanyaan khusus, menggunakan kategori pemikiran tertentu, menggunakan bentuk bahasa tertentu, memandang semuanya dari sudut pandang sosial, jender, keyakinan keagamaan tertentu, dan sebagainya. Bagaimanapun juga tidak dapat menggunakan pandangan kebenaran tertentu, karena kita akan berbicara dengan orang lain, kita hanya dapat berbicara dengan orang lain berdasarkan apa yang dapat menyatukan kita bersama (dimulai dengan bahasa kebersamaan kita). Jelas juga ada dasar kebersamaan untuk mengurangi adanya perbedaan – perbedaan dari apa? Kenyataannya kita dapat berbeda berdasarkan kebersamaan, kesatuan, di dalam konteks yang kita dapat memahami perbedaan dan partikularitas.

Untuk memahami manusia sepenuhnya, kita perlu menyadari keterbatasan karakter tertentu dari semua statemen, dan pada waktu bersamaan menyadari adanya kesatuan mendasar dari beragam perbedaan. Oleh karena itu, karena tidak ada satu narasi atau satu sebutan yang sepenuhnya dapat mewakili Pertama yang terakhir (dengan mengenal kekhasan dari semua bahasa), kita sebagai manusia juga harus selalu berdialog dengan orang lain untuk mendekati Prinsip Mutlak yang abadi, sebagai horison yang pernah muncul namun menghilang kembali (dengan mengenal konteks dialog atas dasar kesatuan yang pada akhirnya akan merangkul semua bahasa).

Jadi kita berbicara tentang Dia-Logos (Yunani: melalui perkataan/ pikiran) sebagai ekspresi global akan Prinsip Mutlak. Oleh karena itu ketika berbicara dengan bahasa Inggris atau bahasa Indo-Eropa lainnya, kita akan menggunakan istilah Dia-Logos. Bahasa lain akan mengunakan istilahnya sendiri yang cocok untuk mengekspresikan konsep tersebut, misalnya orang Cina mengunakan duihwa dan orang Yahudi memakai dosioch.

Kita tahu bahwa dari fisika sub atom, kosmologi astronomi, sampai ke usaha batin dan antar kemanusiaan, semua realitas itu tidak statis (Yunani: statis: tetap), tetapi dinamis (dynamis: bergerak, bertenaga). Oleh karena itu dasar dari semua realitas adalah bukan hanya Logos, seperti yang diekspresikan dalam bahasa kebudayaan Yunani dan Kristen, tetapi pada level antar-budaya dan bahasa bahasa yang digunakan adalah Dia-Logos.

Dalam rumpun bahasa Indo-Eropa istilah Dia-Logos menggambarkan kekayaan warisan istilah Logos dari Yunani/Kristen dan membantu manusia global bersama-sama mengakui dasar kebersamaan kita. Dari asalnya, “logis” membantu kita merealisasikan adanya logika mendalam, suatu onto-logis dari Prinsip Mutlak. Kemudian beragam istilah tersebut berakhir pada “logi”: geologi, teknologi, psikologi, sosiologi, ekologi, biologi, teologi…. Yang mengandung daya kesadaran klasik, memberikan penjelasan, disiplin mendalam atau sains, dan hal ini juga dapat membantu kita memasuki tahap mendalam dengan kekuatan persatuan melintasi pandangan dunia kita yang berbeda-beda.

Tetapi di sini perlu disinggung kembali bahwa sebagai istilah global untul “apa yang pertama”, Dia-Logos tidak bersaing dengan atau menggantikan sebutan-sebutan pokok yang ada dalam sepanjang sejarah dan budaya. Kekuatan global Dia-Logos justru harus membantu kita menyadari bahwa Prinsip Mutlak bersifat menggerakkan sebutan-sebutan pokok alternatif yang masing-masing mempunyai daya kreatif yang khas. Jadi Dia-Logos menunjukkan pluralitas yang harus menyuarakan: Tao, Aum, Sunyata, Hohmah, Logos, Nomo, Bidang Energi… sebutan pokok sejati yang tak terbatas. Atau menegaskan bahwa sebutan-sebutan pokok untuk Prinsip Mutlak yang berbeda-beda ini adalah “sama” atau “ekuivalen” dalam pengertian apa adanya dan tanpa kritik. Logika mendalam Dia-Logos akan memberikan ruang bagi keragaman dan perbedaan juga akan menumbuhkan “Kesatuan”. “Kesatuan dalam Keragaman” ini, e pluribus unum, adalah kekuatan dari Dia-Logos.

Ketika kita memasuki cara berfikir dialogis/kritis global dan menggunakan bahasa, kita akan memahami dasar kebersamaan di dunia. Namun cara tersebut memalui proses penumbuhan ‘Dialog-Batin’ untuk memperluas pemikiran manusia sampai level global dan bertemu dengan beragam istilah-istilah pokok: Logos, Tao, Hohmah…; dan pada waktu bersamaan mencari kekuatan Logos, Tao, Hohmah…. Untuk mendorong kita memasuki Dia-Logos yang efektif, yaitu ‘Dialog-Batin’. Dalam perputaran evolusi alamiah “kesatuan dalam keragaman” ini kita sedang menyaksikan tumbuhnya kesadaran dialogis/kritis dalam manusia, dari kesadaran Logos, Tao, Hohmah…. menuju Dia-Logos. Dinamika ‘Dialog-Batin’ telah lama mengalami evolusi, dan sekarang diketahui sebagai lehirnya kesadaran Dia-Logos global dalam evolusi manusia dan budaya.

Pemecahan pemikiran menuju cara global telah mengalami proses lama yang menyakitkan dalam evolusi kita. ‘Dialog-Batin’ adalam proses kebangkitan yang mengikhtisarkan tahap perubahan global dan membantu kita menemukan karakter Dia-Logos universal global yang sesungguhnya. Dalam sejarah munculnya Dia-Logos kita menyaksikan bahwa kebudayaan manusia telah berinteraksi sejak awal peradaban, dan pada era kontemporer dinamika global ini sekarang mempercepat “rentetan reaksi” dan membuka ruang bagi pembukaan Dia-Logos global yang sesungguhnya.

Ketika kita menyadari bahwa sebutan khusus kita tentang Prinsip Mutlak adalah mutlak berada dalam konteks agama/budayanya, berarti kita telah mencapai perspektif dialogis. Kemudian bagi kita istilah-istilah khusus kita bisa menjadi istilah kemutlakan yang global. Kita bisa menegaskan bahwa Aum, Tao, Logos… adalah mutlak, karena bersifat terbuka dan dapat didialogkan dengan istilah-istilah mutlak lainnya.

Prinsip-prinsip Dasar ‘Dialog-Batin’

Prinsip-prinsip berikut berusaha menangkap dan mengekspresikan beberapa dimensi pokok ‘Dialog-Batin’. Tentu masih ada rumusan alternatif lain dari prinsip-prinsiup ‘Dialog-Batin’ yang akan menekankan aspek-aspek lain dan menampilkan beberapa bentuk ‘Dialog-Batin’ yang tidak dijelaskan di sini. Atau rumusan pengalaman permulaan ini berusaha mewakili atau memberikan jalan keluar. Dalam semangat ‘Dialog-Batin’ rumusan-rumusan bisa mengalami perubahan. Mendasari semua realitas setidaknya kita dapat melihat sepuluh prinsip teoretis dialog.

  1. Prinsip Rangkaian Kesatuan

Semua realitas adalah dialogis/kritis, berada dalam rangkaian kesatuan

Dialog Destruktif ® Dialog Tidak Memihak ® Dialog Dialogis ® Dialog Batin

Pelaku-pelakunya bertentangan satu sama lain

Pelaku-pelakunya toleran satu sama lain

Pelaku-pelakunya saling belajar satu sama lain

Pelaku-pelakunya mempunyai perubahan kesadaran

  1. Prinsip-Dalam-Dialog

Suatu jalan utama, sebuah “Jalan Raya”, menuju Kebangkitan Dialogis/Kritis adalah dialog yang diperluas dalam Dialog-Batin. Dialog mendalam tersebut membahas semua isu-isu mendasar – agama, filsafat, psikologi, dan sebagainya. – yang kalau ditemukan jalan keluarnya dan disatukan, bersama-sama akan menjadi lokomotif penggerak bagi isu-isu lainnya untuk didialogkan.

  1. Prinsip Realitas-Adalah-Dialog

Semua realitas pada dasarnya interaktif, bekerjasama, “dialogis”. Struktur dialogis ini muncul dari sub-atom ke kosmis (yang dalam level materi dan energi dapat bertukar; dan kemudian sejumlah ilmuwan yakin bahwa struktur binari komputer, – yaitu rangkaian terus-menerus angka 1 dan 0 adalah ‘berdialog’ satu sama lainnya – adalah refleksi dari sifat dasar semua realitas), melalui intra-personal ke inter-personal, terus ke inter-komunal, dan berakhir pada global – dan melampaui ke Sumber Tujuan dari semua realitas.

  1. Prinsip Integrasi

Semua realitas tidak hanya dialogis, tetapi juga integratif. “Dialog” dari semua realitas ini berkisar pada ketegangan pihak antara destruksi dan integrasi. Misalnya, ketika hubungan dialogis antara elektron-elektron, proton, neutron dan “partikel-partikel” serta “gelombang” lain di dalam atom itu tidak “bersatu”, ketika gaya sentrifugal dan sentripetal itu tidak seimbang dalam ketegangan sisi kreatifnya, maka atom akan “pecah” menjadi lubang hitam (black hole) atau ledakan nuklir. Dengan materi menjadi lebih kompleks, integrasi dialog menjadi semakin sulit seimbang dan melangkah dengan tidak mengabaikan persoalan kehidupan dan tidak peduli ketika sampai pada refleksi, rasional/intuitif, afektif, “spiritual” manusia.

  1. Prinsip ‘Pikiran-Kritis’ adalah Bagian Penting dari ‘Dialog-Batin’

Untuk membuka diri dalam ‘Dialog-Batin’ juga perlu membangun kecerdasan pikiran yang secara mendalam dan jernih, yakni ‘Pikiran-Kritis’. Kita perlu belajar bagaimana memahami kita dan orang lain, perkataan kita benar-benar bermakna, dan alasan kita mengatakannya, untuk “memilih”, “memutuskan” (krinein) kebenaran yang kita yakini. Jadi ‘Pikiran-Kritis’setidaknya terdiri dari empat elemen:

  1. Kita berusaha mengangkat prasangka kita dari level bawah sadar – sebagai tempatnya – kepada level kesadaran. Hanya dengan demikian kita akan bisa menghadapinya dengan penuh manusiawi, yaitu secara rasional merefleksikan dan memutuskan, menentang, atau memperhatikan mereka setengah-setengah.
  2. Kita menyatakan bahwa pandangan kita tentang realitas adalah pandangan realitas, yang meski banyak kesamaan dengan pandangan orang lain tentang realitas, sebagian juga dibentuk oleh lensa diri kita yang dipergunakan untuk mengekspresikan dan menginterpretasikan realitas, dan oleh karena itu bukan merupakan pandangan yang absolut tetapi bersifat perspektif.
  3. Kita belajar memahami semua statemen, baik dari kita sendiri maupun dari orang lain, menurut kontek-nya, yakni teks dapat difahami secara benar dalam kon-teks-nya. Hanya dengan cara demikian kita akan mampu menerjemahkan inti mula statemen/teks ke dalam kontek kita.
  4. Kita belajar menggali setiap statemen dengan sangat mendalam, dimulai dari statemen kita kemudian semua statemen lainnya, untuk mempelajari dengan benar apa yang mereka maksud sebenarnya. Hal ini penting dilakukan terutama memperhatikan statemen-statemen, istilah-istilah singkat dan klise karena sering prasangka yang tidak disadari akan menghina mereka.

Proses ‘Pikiran-Kritis’ ini tentu memerlukan dialog mental dalam pikiran kita. Jadi asal mula ‘Pikiran Kritis’ adalah dialogis – dan ‘Dialog-Batin’ pada dasarnya memerlukan kejelasan dan pikiran kritis! Keduanya merupakan dua sisi mata uang dari kemanusiaan. Keduanya harus menjadi nilai, yakni kebiasaan pikiran dan semangat.

  1. Prinsip Mengenal-adalah-bersifat Integrasi-Dialogis

Semua perkenalan adalah interaktif, menguntungkan, dialogis, dan integratif antara yang diketahui dan mengetahui. Perkenalan adalah bentuk yang mempersatukan obyek dan subyek menjadi bentuk “integrasi”. Misalnya permukaan meja menjadi satu dengan, “berintegrasi dengan” permukaan jari-jari kita.  Karakter interaktif, bekerjasama, menyatukan, dialogis-integratif tentu benar ketika orang yang mengenal juga dikenal, sebagaimana pengenalan kita tentang makna manusia. Hal ini benar terutama ketika saya belajar apa makna kemanusiaan bagi kita. Karakter dialogis-interaktif itu selalu benar bagi semua pengenalan: Sejak

  1. Ketika yang dikenal dan yang mengenal terpisah sebagai obyek dan subyek melalui
  2. Ketika yang dikenal dan yang mengenal itu inter-personal, kemudian dengan
  3. Ketika yang dikenal dan yang mengenal adalah komunitas diri, untuk pada akhirnya
  4. Ketika mereka mencakup keseluruhan bumi – dan melampaui
  5. Ke Sumber/Tujuan dari semua realitas.
  6. Prinsip Dialog-Adalah-Kerukunan

Dialog adalah “kebersamaan”, suatu “pembicaraan” dengan yang dianggap berbeda dengan kita terutama agar kita dapat belajar. Karena semua realitas itu bekerjasama dalam dialog penuh, kedua partisipan harus bertujuan utama untuk saling belajar. Oleh karena itu pada dasarnya partner kita harus juga mengajarkan jika kita akan belajar darinya dan sebaliknya. Ketika “Dialog Destruktif” berubah menjadi integrasi, menjadi “Dialog yang Tidak Memihak” yang mempunyai pendirian sama, maka akan bergerak menuju “Dialog Dialogis” dan pada akhirnya mencapai ‘Dialog-Batin’, pada saat pemahaman satu sama lain mencapai level yang mengubah kesadaran kita.

  1. Prinsip Plural-Otentik

Dialog dapat dilakukan ketika saya merealisasikan bahwa pandangan saya tentang realitas adalah bukan satu-satunya pandangan. Dialog akan terjadi ketika kita memahami seseorang dengan pandangan yang berbeda dengan kita tentang kehidupan kita (dan jelas mereka juga) memikirkan tentang kehidupan manusia yang otentik – kita kemudian perlu mengetahui bagaimana mereka melakukannya!.

  1. Prinsip Keseluruhan-sebagai-Dialog Batin

Dialog melibatkan keseluruhan pikiran, emosi, tindakan seseorang. Dialog muncul dari kesadaran hidup yang penuh perasaan, ke dalam area praktis kehidupan pribadi dan golongan, dan menuju ke level antar golongan. Hal ini dengan sendirinya menimbulkan jaringan, aliansi, dan kerjasama yang bersifat integrasi dialog. Jadi dialog memulihkan pribadi dan polis dengan keseluruhan (kesucian).

10. Prinsip Dialog-Sebagai-Ontologi-Kebenaran

Ketika orang berhasil melakukan dialog, ‘Dialog Batin’, maka akan merasakan kebenaran. Kita merasakan bersatu. ‘Dialog-Batin’ merasakan kebenaran, bersatu, karena dialog manusia adalah “sinkron” (in sync) tidak hanya dengan keseluruhan kemanusiaan, jiwa dan raga kita, tetapi juga dengan keseluruhan realitas dari sub atom ke kosmis menuju ke Realitas Mutlak dimana orang menyatu  “dalam integrasi-dialog” dengan dunia.

Tiga Langkah Dinamis dalam ‘Dialog-Batin’

Harus dijelaskan bahwa sepuluh prinsip yang diuraikan di atas adalah sangat integral satu sama lainnya dengan praktik nyata dalam ‘Dialog-Batin’. Pada uraian tiga dinamika dasar ‘Dialog-Batin’ berikut ini kita akan melihat bahwa prinsip yang berbeda-beda tersebut tumbuh bersama-sama dan beriringan dalam proses nyata ‘Dialog-Batin’.

  1. Dinamika Realitas

‘Dialog-Batin’ adalah seni kehidupan manusia yang berdasarkan pada realitas itu sendiri. Terutama adalah seni wujud, seni yang menggugah pikiran kita menuju harmoni dengan proses realitas itu sendiri. Tumbuhnya kesadaran ini kepada pertemuan mendalam dengan realitas adalah evolusi alamiah dari kondisi kemanusiaan kita. Dipandang dari sudut prinsip Dia-Logos kita melihat bagaimana dan mengapa realitas obyektif itu berdialog dengan dinamis atau merupakan proses interaktif dimana semua eksistensi itu tidak terbatas dan tersusun saling mempengaruhi. Jadi susunan realitas itu merupakan hubungan dinamis yang diikat oleh daya pemersatu Dia-Logos. Semua kehidupan adalah proses dialog terbuka. Alam terbuka dengan dialog, dan dengan demikian kita bisa menyebutnya dengan “dialog alam”

  1. Dinamika Kerjasama

Misteri dialog adalah bahwa sebagai dorongan alamiah Dia-Logos pada satu sisi menjadi daya pemersatu keragaman disamping merupakan daya pemecah yang mendorong dan menimbulkan keragaman dan perbedaan. Singkatnya kekuatan pokok eksistensi adalah dialog – misalnya kekuatan pokok adalah hubungan adalah membuarkan sesuatu berbeda secara luas dan meski demikian sepenuhnya bersatu dalam keseluruhan yang integral. Inilah mengapa semua sesuatu pada dasarnya tumbuh dari kekuatan dialogis, menemukan identitasnya dan integritas mendalamnya dalam dan melalui kekuatan ini, dan bersama-sama secara lahir diikat oleh kekuatan pemersatu yang yang membentuk rangkaian kesatuan, suatu integritas eksternal. Setiap dorongan eksistensi adalah proses dialogis alamiah. Kekuatan Dia-Logos ini kemudian menjadi alasan mengapa eksistensi itu merupakan rangkaian kesatuan dari sesuatu yang berbeda-beda secara bebas, yang masing-masing tersusun dalam kesatuan batin dan integritas lahir.

  1. Dinamika Pertumbuhan Refleksi

Evolusi manusia tumbuh dari evolusi dialogis alamiah dimana kesadaran semakin meningkat dalam pertumbuhan dialogis/kritis – suatu dinamika refleksi diri dimana kehidupan menjadi sadar diri terhadap prinsip dialogis/kritis dari Dia-Logos itu sendiri. Inilah motif-logo yang menggerakkan kehidupan manusia dan dinamika ‘Dialog-Batin’. Proses pertumbuhan kehidupan adalah dorongan dialogis/kritis, keharusan dialogis/kritis, yang mendorong kita kepada kehidupan Dia-Logos. Jadi terdapat perputaran batin dalam dinamika ‘Dialog-Batin’. Dinamika tersebut menjadikan ‘Dialog-Batin’ sebagai pembangkit kekuatan penggerak kehidupan, yang firealisasikan dalam kesadaran reflektif ‘Dialog-Batin’.

‘Pikiran-Krits’ juga ‘Dialog-Batin’

Jadi ‘Dialog-Batin’ adalah proses transformasi penuh yang kemudian harus menjadi kebiasaan pikiran dan semangat, yang secara tradisional dikenal sebagai nilai – berdasarkan pada filsafat klasik dan tradisi spiritual dalam konteks global. ‘Dialog-Batin’ telah coba dikembangkan dan dipebarui selama bertahun-tahun melalui pertemuan luas antar dunia (antar agama, antar budaya, antar dialog…). ‘Dialog-Batin’ adalah metode untuk memasuki dunia atau perspektif lain dan kembali dalam keadaan mengalami transformasi, memperoleh pengetahuan mendalam tentang pandangan dunia seseorang dan tumbuhnya kesadaran terhadap pandangan dunia orang lain. Melalui kekuatan ‘Dialog Batin’ yang tumbuh ini, individu dan masyarakat mampu merasakan dasar kebersamaan diantara dunia dan perbedaan, dan kemudian mencapai integritas personal dan kesatuan masyarakat lebih mendalam.

Pada saat yang sama, seperti yang telah disinggung sebelumnya secara singkat, untuk membuka pribadi menuju ‘Dialog-Batin’, adalah perlu membangun kecerdasan pikiran mendalam dan jernih – yakni berfikir secara kritis. Kita perlu belajar bagaimana memahami maksud kita sebenarnya ketika kita mengatakan sesuatu, dan mengapa kita mengatakannya, untuk “memilih”, “menilai” kebenaran yang kita yakini.proses ini jelas memerlukan dialog mental dalam pikiran seseorang.

Pada permulaan milenium ketiga yang diperlukan adalah renovasi semua pendidikan – dari lahir sampai liang lahat – melalui ‘Dialog-Batin’ dan ‘Pikiran Kritis’ berdasarkan pada Etika Global, dalam peradaban global yang sedang tumbuh (bukan monolitis tetapi “kesatuan dalam keragaman”, sebagaimana pernyataan singkat orang Amerika, e pluribus unum, “dari keragaman, terdapat kesatuan”). Menjadi semakin jelas bahwa salah satu tantangan terbesar menghadapi budaya kontemporer dan seluruh level pendidikan adalah meniru secara kreatif dengan kekuatan penuh yang timbul ketika pandangan dunia dan perspektif yang berbeda-beda bertemu satu sama lainnya. Yang lebih kronis dan merupakan problem yang paling mengena mengahadapi budaya sekarang terpusat pada terpecahnya hubungan manusia dalam benturan pandangan dunia dan perbedaan dalam semua aspek kehidupan kita.

‘Dialog Batin’ dan ‘Pikiran Kritis’ adalah inti kemampuan manusia yang berfungsi pada dasar seluruh kehidupan dan pengalaman manusia. Kemajuan penting ini mengalir dari pemahaman bahwa realitas itu sendiri dan pemahaman kita tentang realitas adalah dinamis. Dan merupakan hubungan yang menyatu – suatu proses dialogis mendalam dimana semua sesuatu itu saling berhubungan. Dari kekayaan pengalaman budaya selama berabad-abad, tumbuh kesadaran bahwa akal manusia, ‘Pikiran Kritis’, pada intinya adalah dialogis. Oleh karena itu ‘Dialog Batin’ adalah inti kemampuan rasional kita untuk berdialog dengan realitas, bersentuhan dengan dunia sekitar kita yang terus berubah. ‘Dialog Batin’ dan ‘Pikiran Kritis’ adalah penting dalam seni kemanusiaan.

Kesadaran bahwa dinamika dialog yang merasuki kehidupan kita ini dalam setiap hal telah terefleksi dalam kesadaran kuno dan perennial dimana kita sebagai manusia berperan penting dalam saling membentuk realitas kita. Sekarang penelitian yang lebih belakangan menjelaskan bahwa kita sebagai manusia di bumi membentuk dirinya (dan secara timbal balik mempengaruhi kita) dengan melalui proses pikiran kita. Kita mempunyai pandangan dunia dengan melalui proses dialogis dari konseptualisasi, interpretasi, imajinasi, penyusunan, revisi – yang semuanya integral untuk pemahaman rasional.

Dalam hal ini, seluruh aspek kehidupan kita, pengalaman kita, dan dunia di sekitar kita tumbuh dalam konteks pandangan dunia atau kompleks “dunia kehidupan” yang kita diami dan yang mendiami kita. Semakin jelas bahwa dalam inti seni manusia memahami dunia ini, yang membentuk semua pengalaman kita terdapat dialog dinamis fundamental antara diri, atau subyek dengan realitas di sekitar kita. Dalam setiap dasar kehidupan kita, kita berada pada struktur hubungan antara diri dengan yang lain (subyek dengan obyek), yang selalu melibatkan mode dialog, interpretasi, dan pikiran kritis.

Jadi bisa dikatakan bahwa kita sebagai manusia adalah wujud rasional yang dialogis, pembentuk dunianya, yang langsung saling membentuk dan berpartisipasi dalam semua fenomena di sekitar kita. Dalam pengertian mendalam dan luas tentang pemahaman rasional ini, kita dapat mengetahui bahwa akal alamiah pada dasarnya merupakan kemampuan kita dalam membentuk dunia kehidupan kita, pengalaman kita, untuk meneliti dan menjelaskan perbedaan, dan untuk mengatasi keragaman dan perbedaan. Pada saat yang sama, juga merupakan kemampuan secara sintetis melihat kesatuan fundamental dan dasar kebersamaan, untuk menyatukan perbedaan dalam tatanan yang koheren, dan untuk mengatasi beragamnya faktor dalam pergulatan individualitas, identitas personal, dan integritas kita.

Selanjutnya struktur dialogis manusia memerlukan tidak hanya berfikir dan berbicara secara dialogis, tetapi juga berlaku kepada dan dengan orang lain – orang dan benda – dengan cara yang dialogis. Karena prinsip dasar tindakan kita adalah etika, dan kita semakin lama akan hidup dalam satu dunia, kita seharusnya bererak menuju dasar bersama, suatu Etika Global, yang membentuk bagaimana kita memperlakukan hidup kita, orang lain, dan dunia yang kita diami.

Kecerdasan dan kemampuan dasar dalam seni pengembangan diri ini memunculkan dimensi yang berbeda-beda dalam dinamika ‘Dialog-Batin’ dan ‘Pikiran-Krtis’. Dalam hal ini, nilai-nilai ‘Dialog-Batin’ dan ‘Pikiran-Kritis’ bekerja dalam setiap aspek kehidupan kita – dalam hasrat dan emosi kita; dalam pikiran kita, pemahaman, penilaian, pertimbangan; dalam hubungan kita dengan diri, orang lain dan dunia di sekitar kita, yaitu “ekologi”. Dalam seni pembentukan diri, seorang diri yang integral (seorang in-dividual – yakni tidak terpecah [un-divide]), sekarang yang paling penting dari sebelumnya bagi kita adalah melatih kemampuan dasar dalam dinamika ‘Dialog-Batin’ dan ‘Pikiran-Kritis’. Karena kemampuan ini akan membantu kita menjadi diri sepenuhnya, diri yang integral, yang tidak hanya dapat mendamaikan keragaman luas pandangan dunia, perspektif, dan identitas dalam kehidupan batin yang koheren, tetapi juga dapat berdialog dengan kehidupan di luar kita, etika kita, dengan cara kebersamaan yang damai dengan orang lain dan lingkungannya.

Tujuh Tahap ‘Dialog Batin’

Tahap pertama: Pertemuan dengan Perbedaan yang mencolok (Individu bertemu dengan Orang lain)

Pertemuan pertama ini disertai dengan rasa terkejut melihat kenyataan Orang Lain yang mempunyai pandangan hidup yang berbeda, pandangan dunia yang berbeda, Orang Lain yang asing yang bertentangan dengan dan mengganggu pola-pola pemahaman kita. Dengan pertemuan pertama ini terdapat realisasi baru bahwa kebiasaan pikiran kita tidak dapat memahami kebiasaan pikiran Orang Lain. Pertemua dengan perbedaan radikal ini – dengan dunia yang berbeda, cara memahami dan mengekspresikan dunia yang berbeda – adalah membingungkan, kadang-kadang mengancam, dan menimbulkan kerentanan akan kehadiran yang asing ini. Saya mempunyai pemahaman baru tentang keterbatasan, dan saya merasa tertantang untuk merubah, merevisi cara saya berhubungdan dengan Orang Lain. Sekarang saya nyatakan bahwa kebiasaan saya memahami Orang Lain menurut pola “pikiran” saya, mencocokkan Orang Lain dengan pandangan dunia saya, adalah tidak ada gunanya. Oleh karena itu saya menghadapi kesunyian mendadak, terhenti sejenak dan keterbukaan – suatu horison ketidakmenentuan yang terbuka dan beresiko. Saya harus memutuskan untuk bergerak ke depan atau mundur ke belakang.

Tahap Kedua: Melintasi – Pergi dan Memasuki Dunia Orang lain (Individu Ditransformasikan Melalui Empati)

Setelah pada mulanya merasa terkejut dan menyatakan bahwa sekarang saya menghadapi dunia yang asing, pandangan dunia yang sangat berbeda dengan pandangan dunia kita, saya merasa tertantang ingin, meneliti, terlibat dan memasuki dunia baru ini. Dengan keterbukaan saya terhadap Orang Lain ini, saya sadar bahwa saya perlu kembali dan menjauhi kebiasaan-kebiasaan dan pola memahami dunia sebelumnya. Saya mulai sadar bahwa dunia lain ini benar-benar lain dengan dunia kita. Saya nyatakan bahwa saya harus belajar kebiasaan dan cara pemahaman baru untuk memahami dunia yang berbeda-beda ini. Saya harus belajar “bahasa baru”. Tentu saya harus menjelaskan diri saya dalam bentuk kehidupan yang berbeda-beda yang melihat dunia dengan keragamannya. Hal ini memerlukan menanggungkan praanggapan-praanggapan kita.

Tahap Ketiga: Tinggal dan Mengalami Dunia Orang Lain (Individu Ditransformasikan ke dalam Orang Lain)

Saya mulai merasakan empati baru dan mendalam dengan kebiasaan baru saya. Saya ingin membiarkan diri saya beranjak – membebaskan diri saya memasuki, mengalami, belajar dan tumbuh dalam cara pemahaman baru ini. Saya bisa memberikan pandangan saya sebelumnya sebanyak yang bisa saya lakukan, tetapi kemudian saya melakukannya dengan cara berdialog. Saya juga mengalami hal yang menarik dalam menjelajah dan tinggal dalam pandangan dunia yang baru dan berbeda. Saya mempunyai kesadaran mendalam tentang Sesuatu Yang Lain, realitas dan bentuk alternatif dari kehidupan. Tetapi pada akhirnya, saya sadar bahwa di sini bukan rumah saya.

Tahap Keempat: Kembali dengan Pandangan Yang Luas (Diri kembali ke Rumah dengan Pengetahuan Baru)

Saya sekarang kembali ke dunia saya sendiri, membawa pulang pandangan baru tentang bagaimana berfikir dan bertindak – dan bahkan mungkin ingin mengadopsi dan beradaptasi dengan pandangan baru tersebut. Akibat pertemuan penting dengan dunia Orang Lain ini, sekarang saya sadar bahwa ada cara lain untuk memahami realitas. Oleh karena itu saya bebas berfikir bagaimana saya melihat diri saya, orang lain, dan dunia. Saya menemukan diri saya dan budaya yang baru, dengan pikran baru yang terbuka. Pertemuan saya dengan perbedaan radikal sekarang menantang identitas diri saya, dan semuanya mulai nampak dengan pandangan yang baru. Perubahan mendalam yang dramatis sekarang mulai merasuki pemahaman dan diri saya, identitas saya, etnisitas saya, dunia kehidupan saya, agama saya, dan budaya saya. Hal tersebut menjadikan tidak ingin kembali ke cara pemikiran sebelumnya.

Tahap Kelima: Kebangkitan Dialogis – Perubahan Paradigma Mendasar (Individu Ditransformasikan secara Batiniah)

Sebagai akibat dari pertemuan baru dengan individu ini, ketika saya kembali dari pertemuan batin saya dengan Orang Lain, saya mulai merasakan perubahan mendasar dalam seluruh aspek dunia saya – dalam pengalaman batin saya, dalam pertemuan saya dengan orang lain, dalam hubungan saya dengan dunia. Saya mulai sadar bahwa pertemuan saya dengan Orang Lain telah menggoncang pandangan dunia dan identitas saya. Karena sekarang saya memikirkan tentang realitas hidup dunia lain, perspektif lain, saya tidak lagi dapat kembali ke identitas saya sebelumnya dan melupakan kehadiran orang lain ini. Sekarang tentu saya muli sadar bahwa terdapat banyak dunia-dunia lain, bentuk kehidupan lain, perspektif-perspektif lain yang ada di sekitar kita. Sekarang saya terbuka terhadap pluralitas dunia dan perspektif lain, dan hal ini tentu mengubah pemahaman diri saya. Saya merasakan perubahan dengan pemahaman mendalam saya tentang hubungan dengan lingkungan saya. Saya merasa lebih mendalam dalam pengalam hubungan dan kebersamaan ini. Sekarang saya tahu bahwa identitas kebenaran saya pada dasarnya berhubungan jaringan hubungan luas dengan identitas Lainnya. Inilah semangat membara dari Kebangkita Dialogis.

Tahap Keenam: Kebangkitan Global – Pematangan Perubahan Paradigma (Individu berhubungan dengan dirinya, Orang lain, dan Dunia)

Dalam kebangkita dialogis saya, saya menemukan dasar bersama yang mendalam diantara keragaman dunia dan perspektif yang ada disekitar kita. Saya mempunyai pemahaman baru bahwa individu dan orang lain bersama-sama tidak dapat dipisahkan dalam jaringan yang saling berhubungan tanpa batas. Saya sadar bahwa keragaman dan perbedaan memperkaya diri dan dunia saya. Sekarang saya tahu bahwa semua dunia berada pada dasar realitas yang sama dan oleh karena itu perbedaan radikal berada pada bidang kesatuan.

Saya mengalami tiga dimensi yang berhubungan dari kebangkita dialogis global:

  1. Pemahaman diri yang mendalam: saya menjadi sadar akan dialog batin dengan diri saya. Saya menemukan kekayaan keragaman dan perbedaan perspektif dalam dunia batin saya. Dalam dialog batin ini, saya merasa semakin mendalam dengan dunia saya. Identitas saya diperkaya dengan keragaman, dan saya merasakan pemahaman yang lebih kuat tentang keunikan saya, sebagaimana saya melakukan dunia hubungan luas dengan orang lain dan lingkungannya.
  2. Dialog dinamis terbuka dengan orang lain dalam komunitas saya: bersamaan dengan perkembangan dialog batin baru saya, saya menemukan diri saya dalam hubungan yang baru dan mengubah dengan orang lain yang berbagi dengan dunia saya, tradisi saya, agama saya, dan budaya saya. Fase baru hubungan dengan teman saya ini bisa membingungkan, karena seperti saya sekarang tumbuh dramatis dengan identias saya, saya menemukan diri saya berada pada jarak yang jauh dari sebagian banyak teman saya, bahkan ketika saya menemukan ketertarikan mendalam dan pelukan dari komunitas saya, polis saya. Saya menghadapi pergolakan baru – miskomunikasi dan salah paham dengan kolga-kolega saya – dan dialog dramatis yang menantang menyatukan dalam polis saya.
  3. Tumbuhnya kebangkita global dalam seluruh aspek kehidupan saya: dengan matangnya dialog antara orang dalam dengan orang luar, saya menyatakan bahwa pemahaman saya tentang dunia saya memasuki pencerahan “global” baru. Saya sadar bahwa saya dikelilingi oleh banyak pandangan dunia. Saya memasuki horison global dan kesadaran global dimana dialog antar-agama, antar-budaya, antar-ideologi, antar-disipliner, banyak tujuannya. Sekarang saya mempunyai pemahaman global yang baru tentang realitas – bagian dialogis dimana beragam dunia alternatif berada dalam hubungan yang dinamis dan mendalam. Dengan pemahaman ini muncul sikap baru terhadap kehidupan dan etika.

Tahap Ketujuh: Individu dan Transformasi Global Kehidupan dan Perilaku (Kehidupan dan Perilaku Individu dalam Kesadaran Dialogis Global Baru)

Dengan berubahnya paradigma dalam kematangan hidup saya, saya sadar bahwa perubahan mendalam telah terjadi dalam seluruh aspek dunia – kesadaran moral baru dan praktik baru. Dengan kesadaran baru yang menjadi kebiasaan hidup saya, saya sadar bahwa perilaku dan watak saya terhadap diri saya dan orang lain menjadi terbuka. Saya merasakan pemahaman baru bersatu dengan diri saya, dengan orang lain dan dengan lingkungan. Saya sadar bahwa perhatian mendalam diri saya pada dasarnya melibatkan perhatian saya terhadap orang lain dan lingkungan. Saya mempunyai perasaan mendalam bersatu dengan dunia saya dan dengan komunitas saya, dan ini menimbulkan perasaan tanggung jawab dalam semua tindakan saya. Sekarang saya sadar bahwa saya telah mengalami perubahan dalam kebiasaan pikiran dan perilaku mendalam. Saya menemukan perasaan mendalam tentang realisasi diri dan pemenuhan serta makna dalam kehidupan saya dan hubungan saya dengan orang lain dan dengan dunia di sekitar saya.

HASIL-HASIL DIALOG ANTAR AGAMA DAN ANTAR IDEOLOGI

Apa hasil yang dapat dicari dalam dialog antar agama dan idelogi? Pada umumnya, kita dapat memperkirakan hasilnya tidak hanya dapat menghentikan kejahatan – fisik, verbal, ekonomi, dan sebagainya – tetapi juga ledakan kreativitas. Jelas bahwa berkurangnya kejahatan di dunia akan meningkatkan level “kebahagiaan” di dunia. Tetapi disamping itu juga benar bahwa energi – terutama energi psikhis dan intelektual – sebaliknya mengalir ke dalam polemik yang nyata dan tersembunyi yang akan dilepaskan untuk tujuan konstruktif daripada destruktif. Tetapi akankah daya pembebasan baru ini kembali ke penggunaan pemborosan lain atau bahkan penggunaan destruktif? Adalah mungkin.

Namun semua kemungkinannya adalah bahwa mereka akan memfokuskan pada ekspansi kreatif diri individu yang otentik, yang banyak melibatkan hubungan dengan yang lain – orang lain, binatang, benda mati, dan akhirnya dengan Realitas Mutlak. Alasannya adalah:

Partner Dialog diperlakukan sebagai cermin

Pertama, dalam dialog partner diperlakukan sebagai cermin bagi satu sama lainnya. Aturan dasar manusia yang sama menjadi sepenuhnya manusiawi melalui kerjasama yang ditunjukkan dalam tindakan awal yang dipusatkan dalam dialog. Setiap orang yang memasuki dialog akan mempunyai beberapa pemahaman diri. Namun dalam dialog, orang tidak hanya belajar banyak dari partnernya, tetapi mereka juga belajar bagaimana pemahaman partner tentangnya.

Bahkan jika partner dialog yang pertama mengaku bahwa partner dialognya salah memahaminya – yang pada umumnya normal terjadi – partner yang pertama akan belajar bagaimana kenyataan mereka setidaknya dilihat oleh beberapa partner lainnya. “Hubungan” yang dirasakan oleh orang lain juga merupakan bagian realitas yang kita miliki. Hubungan adalah elemen yang esensial dan pembentuk dari setiap manusia  (dari seiap benda, untuk persoalan itu). Manusia hidup tidak “sendirian” tetapi berkelompok. Seperti pernyataan Aristoteles, manusia adalah binatang yang hidup berkelompok (gregarious animal) (seperti dalam bahasa Latin, gregis: “berkumpul”). Melalui partner dialognya, manusia mendapat pelajaran tambah tentang “bagaimana mereka hidup di dunia”, seperti yang dinyatakan oleh Heidegger.

Karena dalam dialog orang terutama bisa belajar dari orang lain dan kemudian bisa mengalami perubahan, pelajaran untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain ini juga cenderung akan mempunyai efek transformatif pada diri partner yang pertama. Misalnya parter pertama menganggap dirinya toleran, tetapi mereka makin sadar bahwa orang lain menganggapnya tidak toleran, mereka mungkin akan berusaha mengubah perilakunya agar kepercayaan yang dikomunikasikannya adalah otentik sesuai dirinya. Atau mereka mungkin terdorong, setelah melakukan refleksi, mengakui bahwa dirinya ternyata tidak setoleran seperti yang dipikirkan dan kemudian berusaha mengubah realitas batinnya dan menjadi lebih toleran, atau mengubah pemahaman tentang toleransinya, atau mungkin memutuskan bahwa dirinya yakin “toleran” dengan integritas (misalnya mereka tidak akan “toleran” dengan rasisme).

Perubahan dari Pandangan Batin ke Pandangan Lahir

Kedua, memasuki dialog antar agama yang serius, dialog antar ideologi memerlukan perubahan dari bentuk permulaan batin – dengan mengajak orang luar (outsider) – untuk melihat keluar. Inilah yang mendasar, perubahan radikal yang pada umumnya akan memberikan perubahan penuh kepada partner dialog. Dunia keagamaan orang luar tidak lagi difahami sebagai yang jahat dan sumber kekeliruan – atau, lebih tepatnya sebagai tempat ketidakpedulian – seperti yang terjadi dalam Era Monolog. Dunia agama dan idelogi luar sekarang justru dianggap sebagai sumber pengetahuan, kebijaksanaan, wwasan, inspirasi, dan sumber perbaikan alternatif – meski orang tentu tidak beranggapan bahwa setiap sesuatu dalam agama dan idelogi lain adalah inspirasi dan kebijaksanaan.

Tetapi dengan mendekati dunia luar dengan anggapan yang positif, partner dialog tentu merasa heran dalam kuantitas dan kualitas inspirasi dan kebijaksanaan luar biasa yang ada di sana. Keduanya ada bersamaan; orang tidak akan mendengarkannya, kecuali orang yang teruka untuk berdialog – sebagaimana Yesus mengajarkan kepada para muridnya – “gunakan telinga untuk mendengar” (Matthew 13:9).

“Rangkaian Reaksi” Dialogis

Ketiga, perubahan pandangan seseorang dari batin ke lahir untuk berdialog dengan partner dialog akan menimbulkan serangkaian reaksi. Misalnya, Gereja Katolik diam-diam terlibat dalam “pandangan-pusat” sampai Konsili Vatikan Kedua (1962-1965). Pada awal tahun 1920-an Paus Benedict XV menolak bergabung dengan Kristen Protestan dan Ortodox ini yang memintanya (dan Katolik) untuk membantu membentuk Gerakan Ekumenik, yaitu suatu gerakan dialog antar orang Kristen untuk menyatukan Kristen. Penggantinya, Paus Pius XI melarang Katolik berpartisipasi dalam pertemuan Iman dan Gerakan Orde (Order Movement) (demi kesatuan Kristen) pertama kali di dunia pada tahun 1927, dan penggantinya Paus Pius XII juga melarang kembali pada tahun 1948 dan 1954.

Namun pengganti Pius XII, “Paus John Yang Baik” (Paus John XXIII), mengadakan Konsili Vatikan Kedua pada tahun 1959 “untuk memperbarui Gereja Katolik agar dapat berusaha menyatukan Kristen”. Konsili tersebut diadakan secara resmi untuk menegaskan keharusan Katolik untuk memasuki dialog tidak hanya dengan Protestan dan Kristen Ortodox, tetapi dengan Yahudi, Muslim, Hindu, Buddha, dan agama-agama lain, bahkan dengan orang yang tidak beragama.

Ketika kembali kepada dialog dengan partner logika pertama untuk orang Katolik – Kristen Protestan dan Ortodox – dilakukan, logika batin kemudian melanjutkan dialog menuju ke masing-masing partner “logis” selanjutnya. Jika inspirasi dan kebijaksanaan menyertai dalam dialog dengan Kristen non Katolik, apakah juga akan mungkin muncul inspirasi dan kebijaksanaan dalam dialog antara orang Yahudi dengan “sumber” Kristen? Kemudian mengapa tidak dengan agama semit lainnya, yaitu Islam? Agama-agama timur, Hindu, Buddha, Konfusianisme, Taoisme dan sebagainya? Mengapa tidak dengan “Semua orang yang berkemauan baik”? seperti yang dinyatakan Paus John XXIII dalam surat ensiklisnya yang menggetarkan, Pacem in terris.[4]

“Pembagian dan penyatuan” spiritual yang terjadi sebagai akibat dari serangkaian reaksi dalam Gereja Katolik bukanlah reaksi “thermonuklir”. Konsili sendiri menyatakan bahwa “Semua umat Kristen harus melakukan hal yang terbaik untuk mempromosikan dialog … sebagai kewajiban amal persaudaraan untuk mengiringi kemajuan era kedewasaan kita”.[5] Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, dalam surat ensiklik pertama (1964), Paus Paul VI menulis “Dialog adalah tuntutan zaman sekarang …. Dialog adalah dituntut … oleh kedewasaan yang telah dicapai dalam era ini”, dan pada tahun 1968 Sekretariat Vatikan untuk Dialog dengan Orang yang tidak beragama mencatat bahwa “Dialog doktrin harus dimulai dengan keberanian dan ketulusan, dengan kebebasan penuh… Diskusi doktrin [harus] menghargai kebenaran di manapun, sekalipun kebenaran membongkar kebenaran seseorang maka orang akan terdorong mengakui posisi diri seseorang, dalam teori dan praktiknya”.[6]

Beradaptasi dengan Elemen-elemen dari Pola-pola Dialog Kita

Keempat, dalam dialog kita tidak hanya akan belajar mengenal pola-pola kita secara lebih akurat; kita juga akan menemukan tradisinya yang mengagumkan, bahkana akan menemukan hal sehingga kita ingin mengadopsinya untuk diri kita. Misalnya, beberapa tradisi meditasi Buddha sangat mengesankan menurut kebanyakan orang Kristen. Sebaliknya, orang Buddha sangat terkesan dengan komitmen Kristen dalam keadilan sosial bahkan dalam hal masuk penjara atau mati demi keadilan sosial. Akibatnya banyak orang Kristen melakukan metode meditasi yang dipelajarinya dari orang Buddha, dan banyak orang Buddha menjadi erat terlibat dalam aksi keadilan sosial.

Meski demikian, dialog antar agama tidak akan menimbulkan bentuk sinkretisme dalam pengertian gabungan pilihan dari banyak elemen. Dialog agama justru akan dan mendorong seseorang untuk lebih “beradaptasi” daripada hanya “mengadopsi” elemen-elemen dari partner dialog kita. Hal ini berarti bahwa elemn-elemen yang diadaptasi dirancang cocok dengan integritas dalam tradisi partner pertama. Misalnya, orang Kristen tidak menjadi tidak bertuhan karena mengadaptasikan meditasi Zen, dan orang Buddha terlibat dalam tindakan keadilan sosial bukan kenyataannya dia adalah orang Buddha, tetapi karena perbuatan tersebut baik! – seperti dengan tegas dinyatakan oleh Sulak Sivaraksa Buddha Theravada dari Bangkok.

Dialog Perlu Dipraktikkan

Kelima, dialog perlu dipraktikkan. Aksi kerjasama agama tersebut mulai dikembangkan serius di Barat pada abad ke-19. Sampai waktu itu usaha untuk membantu kerugian manusia mulai dilakukan usaha perbaikan yang berdasarkan individualistik. Institusi yang “baik hati” banyak didirikan. Namun situasi tersebut mulai berubah drastis, bersamaan dengan lahirnya Revolusi Industri di Inggris pada akhir abad ke-18 dan di tempat lain di Eropa dan Amerika yang dimulai pada abad ke-19. Sistem pekerja dan feodal lama tidak lagi berfungsi untuk meningkatkan jutaan dalam transfer populasi ke kota-kota.

Sebelum abad ke-19 banyak orang mati dalam usia sangat muda, dan banyak populasi kecil hidup dengan stabilitas sosial dan geografis yang relatif. Kemudian problem peledakan penduduk melanda dunia dan dihadapi baik oleh masyarakat sipil maupun agama. Aksi dermawan dan institusi yang baik hati semakin banyak didirikan dalam kesengsaraan sosial yang muncul pada abad ke-19 dan 20. Pada waktu bersamaan, struktur masyarakat dan pekerjaannya dikaji. Rencana untuk membentuk dan membentuk kembali dibuat dan diuji, diatur dan diuji ulang. Kesadaran, perencanaan, dan tindakan tersebut juga ada dalam agama-agama Barat.

Pada dunia global sekarang, institusi Kristen dan Yahudi menghabiskan jutaan dollar per tahun untuk menangani isu-isu keadilan sosial, sebagai bagian penting yang bertujuan mengubah struktur masyarakat agar menjadi lebih baik. Ide tersebut menyebar di kalangan orang Kristen sebagai misi Gereja yang mengajarkan Kabar Baik dari Gospel untuk seluruh manusia, tidak hanya secara kuantitatif untuk individu, tetapi untuk seluruh manusia secara kualitatif: satu pola manusia yang hidup adalah bagian penting dari kemanusiaan seseorang. Pesan relasionalitas dari semua realitas tersebut, banyak melibatkan manusia yang menganggap sebagai rumahnya.

Fenomena serupa juga mulai ada dalam beberapa dimensi Buddhisme. Satu yang menonjol misalnya Buddhisme Won yang menyebar di Korea pada awal abad ke-20. Buddhisme Won berusaha mengkombinasikan prinsip-prinsip Buddha Gautama dengan prinsip ilmu dan teknologi modern untuk memajukan manusia secara individu maupun kolektif. Oleh karena itu, tidak heran Buddhisme Won juga mempunyai komitmen kuat dalam dialog agama.

Perkembangan tersebut juga terjadi di Jepang – yakni dalam agama yang disebut dengan agama baru yang berdasarkan pada Buddha. Misalnya, Rissho Kosei-Kai – didirikan pada tahun 1930-an oleh Nikkyo Niwano – pada mulanya secara individual berorientasi adalah cabang dari Buddhisme. Tetapi sekarang, akibat dari dialog dengan Katolik, dan khususnya bertemu dengan Paus Paul VI pada tahun 1965 – Rissho Kosei-Kai berubah kepada komitmen kuat terhadap keadilan sosial dan dialog antar agama.

Pada waktu yang sama kita akan menekankan bahwa tindakan kerjasama agama tidak hanya sebatas membantu orang yang membutuhkan materi. Kita justru akan menegaskan bahwa orang lain yang kita ajak kerjasama dengan tindakan etika “altruistik” kita mungkin hanya akan menindas, tidak bebas dalam semua dimensi – dan siapa yang sepenuhnya bebas? Logikanya tentu  juga bahwa yang dianggap kebutuhan besar harus mendapatkan perhatian besar, begitu juga masing-masing akan menyumbangkan sesuai dengan bakatnya, dan terutama, meski tidak eksklusif, hal yang sekarang dibutuhkan, baik materil, spiritual,, sosial, estetika, atau kebutuhan lain: misalnya, menciptakan materi yang cocok untuk orang yang mampu (well-to-do) dan orang yang miskin, mengajar orang mampu dan orang miskin, mengamalkan demokrasi bagi orang mampu dan orang miskin dan menciptakan kebaikan bagi orang miskin dan orang yang mampu.

Di Amerika misalnya, kemiskinan materi dari 30 juta “orang miskin” harus dibasmi, tetapi pada waktu bersamaan sebanyak 220 juta kemiskinan spiritual dalam diri “orang yang kaya” juga harus ditanggulangi. “Pilihan istimewa untuk kebebasan” ini aturannya bukan dari “pilihan istimewa orang miskin”. Pilihan ini lebih melibatkannya – dalam bentuk yang nyata – kecuali dengan memperluasnya.

Kesimpulannya, hubungan antar agama dan antar ideologi yang tidak dilakukan dengan dialog akan menumbuhkan kebodohan dan tidak efektif. Dialog antar agama dan antar ideologi yang tidak dipraktikkan dalam tindakan akan menjadi hipokrit dan tidak efektif. Tidak ada orang yang dapat hidup sendirian.

Persoalan Baru Yang Tidak Muncul Sebelumnya

Keenam, dialog yang dilakukan dengan penuh kesabaran pada akhirnya akan menimbulkan persoalan baru bahwa tidak ada partner dialog yang berfikir tentang pikirannya sendiri. Di sinilah area potensi kreativitas tertinggi dalam dialog. Tentu kita tidak ingin tahu persoalan kreativ apa untuk masa mendatang. Jika kita melakukan, mereka tidak akan menjadi sepenuhnya kreatif dan baru. Baiklah, mari kita ajukan dua contoh pertanyaan tersebut yang mulai dilontarkan dari dialog antara agama Buddha dengan Kristen dalam satu hal dan dialog antar Kristen dengan Islam dalam hal lain:

Efek Penggambaran Realitas Mutlak

Kita telah menguraikan suatu pemahaman Kristen (dan juga Yahudi dan Islam) dan pemahaman Buddha tentang Realitas Mutlak. Kita bersama dengan beberapa orang Kristen lainnya terlibat dalam dialog Buddisme, menegaskan bahwa kecondongan Kristen dalam menggambarkan Realitas Mutlak adalah dari sudut pandang positif (Wujud, Kesempurnaan, Pleroma) dan tendensi Buddha menggambarkan Realitas Mutlak dari sudut pandang negatif (Kekosongan, Sunyata) tidak perlu dianggap sebagai kontradiksi yang eksklusif satu sama lainnya, tetapi mungkin lebih sebagai gambaran yang saling melengkapi.

Jika posisi ini setidaknya diterima, maka menjadi sangat menarik untuk meneliti apakah dan kemudian bagaimana perbedaan deskripsi tentang Realitas Mutlak ini “menciptakan keragaman di dunia”. Agama-agama Semit (Yahudi, Kristen, Islam) lebih dari satu abad telah menghabiskan energi dalam usaha memulihkan kesatuan manusia di dunia ini, sedangkan Buddhisme secara institusional relatif tidak tertarik. Apakah keragaman di dunia ini berhubungan dengan perbedaan pemahaman dan deskripsi tentang Realitas Mutlak? Apakah fakta bahwa setidaknya kedua agama Semit tersebut lebih agresif, tidak toleran, jahat dibandingkan Buddhisme juga berhubungan dengan penggambaran khusus – afirmatif dan negatif – tentang Realitas Mutlak?

Jika ada hubungannya, apa mekaismenya? Jika ada, apa yang dapat atau harus dilakukan untuknya? Hal ini kita yakini dapat menjadi persoalan sangat kritis bagi masa depan manusia dan agama dan bagi hubungan kerjasamanya.

Hak Asasi Manusia dan Pemisahan Agama dengan Negara

Menurut kitab pertama Bibel, Genesis, setiap manusia diciptakan oleh Tuhan menurut gambaran Tuhan (imago Dei), darinya menimbulkan pemikiran bibel tentang persamaan kedudukan manusia. Ide ini menjadi satu pilar yang sekarang dikenal dengan “hak asasi manusia” yang diabadikan dalam Deklarasi Persatuan Bangsa-bangsa tahun 1948. Dua pilar lainnya adalah konsep Yunani tentang peran politik untuk rakyat  (demos-cratia, “demokrasi”) dan sangat menjunjung sistem hukum universal Roma. Konsep tersebut telah lama dan mengalami evolusi sejarah manusia sebelum Peradaban Barat mampu membangun tiga pilar ini, konsep modern dan menumbuhkan realitas hak asasi manusia. Namun, khususnya setelah revolusi Amerika dan Perancis berakhir pada abad ke-18, hak asasi manusa mulai menjadi realitas yang disadari – yang sayangnya realitas tersebut seringkali ditentang oleh Gereja Kristen sampai ‘dekade baru-baru ini’, ketika mereka sedang bersemangat mempromosikan hak asasi manusia.

Salah satu elemen yang penting dalam kemajuan peradaban Barat dalam area hak asasi manusia, sains dan politik pada umumnya, serta kemajuan ekonomi – yang tidak pernah dialami sebelumnya dalam sejarah manusia – adalah pemisahan negara dari agama. Tentu agama di sini termasuk semua ideologi yang berfungsi sama dengan agama seperti Marxisme ateistik.

Pada akhir Zaman Pertengahan, nenek moyang peradaban Barat, yaitu dunia Kristen (Christendoom), mulai mencapai level budaya Yunani awal dan Roma dan kemudian peradaban Islam kontemporer. Semua data historis sangat menguatkan bahwa dunia Kristen akan mengalami kemajuan pada level yang diperkirakan dalam waktu yang lama atau sebentar, kemudian akan mengalami kejatuhan – seperti yang terjadi pada peradaban lain sebelumnya, dan akhirnya terjadi juga pada peradaban Islam. Tapi hal ini tidak akan terjadi. Mengapa? Satu alasan yang mendasar adalah bahwa dimulai dengan Renaissance, agama dan negara lambat laun mulai dipisahkan. Pemisahan ini mengacaukan kualitas kekuatan agama (ideologi) dan akibatnya membiarkan spirit dan pikiran manusia mengejar keingingannya yang tanpa batas untuk mengetahui lebih banyak dan untuk mengatasi setiap problem yang dihadapi.

Hal ini terjadi dalam serangkaian apa yang disebut sejarawan sebagai revolusi: Revolusi Komersil (abad ke-16 – ke-17), Revolusi Ilmu (abad ke-17), Revolusi Industri (abad ke-18), Revolusi Politik (abad ke-18, disimbulkan dalam Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis), dan pada abad ke-19 serta abad ke-20 dengan banyaknya revolusi dalam bentuk peningkatan kecepatan dan jarak.

Dengan kemajuan “eksponen” ini, kemungkinan kerusakan akan meningkat. Seperti pernyataan filsafat zaman pertengahan, Corruptio optimae pessima (perubahan yang terbaik menjadi yang terburuk). Oleh karena itu, karena kebebasan adalah esensi dari manusia, sekalipun mungkin jiwa kita akan mati jika kita tidak belajar kebijaksanaan dan hidup yang sebenarnya, kita tak akan dapat kembali ke tahap perkembangan manusia yang terkekang.

Oleh karena itu masyarakat yang berusaha menyatukan agama-ideologi dengan kekuasaan negara maka akan kembali ke masyarakat klas ketiga. Itulah mengapa, misalnya kita percaya bahwa usaha “islamis” dewasa ini untuk menerapkan kembali hukum Islam, Shari’a, di dunia Islam akan menyalahkan negara-negara ini yang selalu berada di belakang “Barat”. Dan dengan akan kenangan kejayaan budaya Islamis zaman pertengahan dan superioritas Islam atas dunia Kristen, sebenarnya merupakan rasa inferioritas di seluruh negara-negara Islam dalam menghadapi Barat yang membuat marah mereka.

Ketika mereka berpendapat bahwa Islam adalah berbeda dengan Kristen karena Islam adalah agama yang menyeluruh yang melibatkan politik dan seluruh aspek kehidupan lainnya, mereka perlu ingat kembali bahwa dunia Kristen tentu sama selama lebih dari satu milenium – selama era Konstantin. Hanya ketika Barat memisahkan agama-ideologi dengan negara, maka dimulailah tahap kebebasan manusi, dengan kemungkinan kreativitas yang tanpa batas (dan kerusakan).

Dialog: Aturan Dasarnya

Melakukan dialog antar agama dan antar ideologi adalah tidak cukup dengan mendiskusikan subyek agama atau ideologi – yakni “makna mutlak tentang kehidupan dan bagaimana hidup menurutnya”. Partner dialog harus sebagai orang yang relijius atau tergabung dalam komunitas ideologis. Misalnya, jika saya adalah seorang Kristen atau Muslim, saya tidak dapat berpartisipasi sebagai partner dalam dialog Kristen-Muslim, meski saya mungkin bisa mendengarkan, mengajukan beberapa pertanyaan dan membantu berkomentar. Orang yang tidak tergabung dalam tradisi tertentu tentu bisa terlibat dalam dialog agama atau idelogi tetapi tidak bisa disebut sebagai dialog antar agama atau antar idelogi.

Di bawah ini adalah aturan dasar bagi dialog antar agama atau antar idelogi. Ini bukan aturan teoretis yang muluk-muluk. Aturan ini diperoleh dari pengalaman mendalam. Mengabaikan aturan-aturan ini berarti akan mengurangi atau merusak dialog.

Aturan 1 : Tujuan utama dialog adalah untuk belajar – yakni, merubah dan menumbuhkan persepsi dan pemahaman tentang realitas, dan kemudian bertindak menurut pemahaman tersebut. Dengan melakukan dialog kita akan dapat belajar, berubah, dan tumbuh, tetapi bukan berarti kita dapat memaksa orang lain atau partner kita untuk berubah dengan melakukan perdebatan yang penuh polemik. Di lain pihak, karena dalam dialog, kedua partner mempunyai tujuan untuk saling belajar dan berubah, maka masing-masing partner akan menemui kenyataan bahwa partnernya akan membuat perubahan. Masing-masing partner juga akan mengajarkan kepada orang lain – tetapi mengajar adalah bukan tujuan utama dalam dialog. Jadi perdebatan dengan perkataan jauh lebi efektif ditekankan dalam dialog.

Aturan 2 : Dialog antar agama dan antar ideologi harus melibatkan dua pihakdalam masing-masing komunitas agama atau komunitas ideologi dan antara komunitas agama atau komunitas ideologi. Karena dialog antar agama dan antar idelogi merupakan kerjasama, dan karena tujuan utamanya adalah untuk saling belajar dan mendapatkan perubahan dalam masing-masing partner, maka masing-masing partisipan harus memasuki dialog tidak hanya dengan partnernya antar iman – misalnya Katolik dengan Protestan – tetapi juga dengan kerjasama antar agama untuk memberikan buah dari dialog antar agama. Dalam hal ini seluruh komunitas kemudian dapat saling belajar dan mendapatkan perubahan disamping mendapatkan wawasan yang lebih tentang realitas.

Aturan 3 : Masing-masing partisipan dalam dialog harus dengan kejujuran dan ketulusan hati penuh. Harus menjelaskan tujuan dan arah, perubahan masa depan yang mungkin terjadi, dan kesulitan-kesulitan partisipan dengan tradisinya sendiri. Kepalsuan adalah bukan tujua dialog.

Sebaliknya, masing-masing partisipan harus mengasumsikan kejujuran dan ketulusan hati yang sama kepada partner lainnya. Ketidaktulusan akan menghalangi dialog, kegagalan mengasumsikan ketulusan partner juga akan menghalangi dialog. Singkatnya: tidak ada kepercayaan, tidak ada dialog

Aturan 4 : Dalam dialog antar agama dan antar ideologi kita harus tidak membandingkan ideal kita dengan praktik partner kita. Kita harus membandingkan ideal kita dengan ideal partner kita, dan membandingkan praktik kita dengan praktik partner kita.

Aturan 5 : Masing-masing partisipan harus memahami dirinya sendiri. Misalnya, agama Yahudi hanya dapat difahami dari dalam apa makna menjadi orang Yahudi. Kita hanya dapat menggambarkan apa yang tampak dari luar. Kemudian, karena dialog adalah media yang dinamis, yang di dalamnya masing-masing saling belajar untuk berubah dan kemudian memperdalam, memperluas, dan memodifikasi pemahaman dirinya sebagai orang Yahudi, maka akan terasa leluasa berdialog dengan orang Yahudi. Jadi yang menjadi kewajibannya adalah bahwa masing-masing partner dialog harus memahami makna otentik menjadi anggota tradisi tersebut.

Sebaliknya, pihak yang difahami harus mampu sadar bahwa dirinya sedang difahami. Untuk mencapai ketulusan hari, partisipan dialog dengan sendirinya akan berusaha mengekspresikan dirinya apa yang mereka yakini bermakna bagi pernyataan orang lain. Partner harus mampu menyadari ekspresi itu.

Aturan 6 : Masing-masing partispisan yang melakukan dialog harus tanpa asumsi mutlak terhadap adanya titik perbedaan. Kedua partner dialog tidak hanya akan mendengarkan dengan terbuka dan simpati; mereka juga harus berusaha menerima sejauh mungkin meski tetap dengan tradisinya sendiri. Dimana mereka sepenuhnya tidak dapat menerima lebih jauh tanpa melanggar tradisinya sendiri. – persisnya ada titik ketidaksepakatan – yang sering menjadi sangat berbeda dari yang diasumsikan sebelumnya.

Aturan 7 : Dialog hanya dapat dilakukan dengan kesamaan kedudukan, atau par cum pari seperti pernyataan Vatican II. Keduanya harus saling belajar satu sama lain. Berarti misalnya dilakukan oleh sarjana yang berpengetahuan dengan orang yang kurang berpengetahuan, maka tidak dapat sepenuhnya dinamakan dialog yang otentik.

Begitu juga, jika orang Muslim memandang Hindu inferior, atau Hindu memandang Muslim itu inferior, maka tidak akan terjadi dialog. Agar terjadi dialog yang otentik antara Muslim dengan Hindu, kedua partner harus besalajar satu sama lainnya. Dialog hanya akan terjadi oleh “sederajat dengan sederajat” (par cum pari).

Aturan ini juga menunjukkan bahwa cara tersebut tidak dapat dianggap sebagai dialog satu cara. Dialog Yahudi – Kristen yang dimulai pada tahun 1960-an, misalnya secara keseluruhan hanyalah merupakan pendahuluan dalam dialog antar agama. Maka dapat difahami bahwa orang Yahudi menghadiri dialog hanya untuk mengajar orang Kristen, dan orang Kristen datang untuk belajar kepada Yahudi. Tetapi untuk mencapai dialog yang otentik antara Yahudi- Kristen, maka orang Yahudi juga harus belajar kepada Kristen. Dengan demikian maka dialog tersebut akan mencapai par cum pari.

Aturan 8 : Dialog hanya dapat dilakukan berdasarkan saling kepercayaan. Meski dialog antar agama dan antar ideologi mempunyai bentuk dimensi “kerjasama” dalam hal bahwa partisipan harus terlibat sebagai anggota dari komunitas kegamaan atau ideologi. – mislanya, sebagai seorang Taois atau Marxis, – maka secara mendasar benar bahwa hanya orang tersebut yang dapat melakukan dialog. Tetapi dialog diantara individu tersebut hanya dapat dilakukan dengan kepercayaan diri. Oleh karena itu, agar tidak menemui kesulitan pada awalnya, maka orang harus berusaha memberikan dasar yang sama dan membangun dasar kepercayaan manusia. Dengan kepercayaan personal yang mendalam dan luas, persoalan-persoalan yang sulit berangsur-angsur dapat diatasi.

Aturan 9 : Dengan memasuki dialog antar agama dan antar idelogi, minimal kita harus belajar mengkritik diri kita dan tradisi agama serta ideologi kita. Kurangnya kritik diri menunjukkan bahwa tradisi kita telah mempunyai seluruh jawaban yang benar. Sikap tersebut menjadi dialog tidak mungkin dilakukan, karena kita melakukan dialog terutama agar kita dapat belajar – yang jelas tidak mungkin kalau tradisi kita tidak pernah salah, dan jika mempunyai semua jawaban yang benar. Tegasnya, partisipan dalam dialog antar agama dan antar ideologi harus berada dalam tradisi agama atau ideologi dengan integritas dan pendirian, tetapi integritas dan pendiriannya harus disertai dengan kritik diri yang sehat. Tanpa hal tersebut maka tidak akan terjadi dialog dan tidak akan ada integritas.

Aturan 10 : Masing-masing partisipan pada akhirnya harus mengalami agama atau idelogi partner dialognya “dari dalam”. Agama atau ideologi tidak hanya terdiri dari rasio, tetapi juga spirit, jiwa, dan “keseluruhan bentuk”. Agama dan idelogi mempunyai dimensi individu dan komunal. John S. Dunne menawarkan “melintas” (passing over) ke dalam pengalaman keagamaan atau idelogi lain, dilanjutkan dengan kembali dengan penuh pencerahan,keluasan dan kedalaman.[7]

Dialog antar agama dan antar idelogidilakukan dalam tiga area: area praktis, dimana kita bekerjasama dalam membantu kemanusiaan; area kedalaman atau dimensi “spiritual”, dimana kita berusaha mengalami agama dan ideologi orang lain “dari dalam”; dan area kognitif, dimana kita berusaha memahami dan mempercayai. Dialog juga mempunyai tiga fase. Pada fase pertama, yang tidak sepenuhnya kita kuasai, kita belajar meninggalkan pemahaman yang salah tentang orang lain dan mulai memahami orang lain dengan sebenarnya. Pada fase kedua, kita mulai melihat nilai-nilai dalam tradisi partner kita dan ingin mencocokkan tradisi mereka dengan tradisi kita. Jika kita cukup serius, bersemangat, dan sensitif dalam dialog, mungkin pada waktunya nanti kita akan memasuki fase yang ketiga. Di sini, kita bersama-sama mulai mencari area baru tentang realitas, tentang makna, tentang aspek kebenaran yang menjadi kesadaran kita. Kita bisa berhadap-hadapan dengan sesuatu yang baru ini, menghadapi dimensi yang asing tentang realitas melalui pertanyaan, pengetahuan mendalam, dan menggalinya dengan dialog. Bagi kita yang sabar melakukan dialog, kita akan menjadi alat “pewahyuan” baru (bahasa Latin velare, berarti menutup dan menyelubungi), realitas lama dan “membuka” realitas yang baru yang menjadi kewajiban kita·


[1] Ecclesiam suam, no. 9, seperti yang disebut dalam Vatican Council II, ed. Austin Flannery (Collegeville, Minn.: Liturgical Press, 1975), 1003

[2] Humanae personae dignitatem, 28 Agustus  1968 disebutkan sama

[3] Stanley Samartha, One Christ – Many Religions (Maryknoll, N.Y.: Orbis Book, 1991), 86

[4] Pope John XXIII, Pacem in terris (New York: Ridge Press, 1964)

[5] Vatican II, Decree on the Apostolate of the Laity, n. 7

[6] Humanae personae dignitatem, 1007, 1010

[7] Cf. John. S. Dunne, The Way of All the Earth (New York: Macmillan, 1972)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: